READING

Ketika Raya Membaca Rencana (Cerpen)

Ketika Raya Membaca Rencana (Cerpen)

Ketika Raya Membaca Rencana

Oleh: Adenita

(Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Noor, Tahun 2011)

“Astagfirullahaladziiim.. Astagfirullahaladziiim..”

Raya terus berdzikir melepaskan kegundahan hatinya. Ditengah suasana malam yang senyap, airmatanya berjatuhan. Sudah seminggu berlalu, tapi rasa sedih & sakit hati masih mendera hatinya. Bayangan hari terakhir dikantor dengan segala kejadian yang mengejutkan masih lekat dalam ingatannya.

                                                ***

Suara mesin printer & dering telpon terdengar riuh. Materi siaran sudah disiapkan, rundown acara sudah di cek, jadwal live interview juga sudah dikonfirmasi. Hari Jumat itu Raya merasa cantik dengan stelan batik Lasem merahnya. Sudah dua tahun, Raya Anggito bekerja sebagai penyiar berita di radio Recital FM. Pekerjaan yang yang membuatnya selalu update dengan informasi terbaru, banyak bertemu orang-orang hebat & inspiratif, menyenangkan! Kantor dan studio siaran serasa rumah keduanya. Empat jam siaran setiap harinya tidak pernah terasa jenuh.

Sore itu, kantor baru saja selesai berpesta Pizza kiriman seorang pendengar. Dua jam lagi siaran Raya selesai dan ia sudah tak sabar untuk menikmati weekend bersama Tama, suaminya tercinta. Sejak menikah 1 tahun lalu, suasana weekend memang terasa lebih menyenangkan. Tiba-tiba, Okta sang produser masuk ruang siaran,

            “Raya, dipanggil mbak Yeni tuh diruangannya..”

            “Sekarang?”

            “Iya.. wah, kayanya mau dapet job besar nih..”

            “Haha.. bisa aja, tumben manggil ditengah jam siaran. Aku baca iklan dulu , nanti Aku kesana..”

            “Jiee..dipanggil big boss, mau naik gaji nih kayanya..” ledek Rudi, sang operator studio.

            “Amiiin deh “ Raya tertawa.

Raya segera keruangan mbak Yeni, bos besarnya yang terkenal perfectsionis. Seyum mbak Yeni merekah menyambut kedatangan Raya. Pertanyaan seputar kabar masing-masing menjadi pembuka yang manis, hingga akhirnya..

            “Raya, kita sedang melakukan revitalisasi besar. Recital FM Jakarta sebagai sebuah radio jaringan menjadi barometer untuk jaringan didaerah. Jadi, semua orang dituntut berakselerasi cepat dan menyesuaikan diri agar bisa mendongkrak jumlah pendengar. Banyak perubahan & tuntutan baru untuk para penyiar yang harus dilakukan, tidak hanya hadir untuk membaca berita, tapi juga harus aktif dan terus mengembangkan diri lebih serius”

            Mbak Yeni menjelaskan permasalahan panjang lebar dengan hati-hati. Raya mendengarkan dengan serius. Memang sejak kemarin begitu banyak perubahan dikantornya atas nama efisiensi dan revitalisasi.

            “Saya mengucapkan terima kasih atas kerjasama dan usaha kamu yang luar biasa selama ini. Saya tidak meragukan kemampuan kamu untuk berakselerasi dengan perubahan yang ada. Kontrak kerja kamu akan berakhir bulan depan, dan setelah manajemen menilai.. kami memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak kerja kamu di perusahaan ini..”

            Jantung Raya seolah berhenti berdetak.

            “Alasannya apa ya, Mbak? “ Raya tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.

            “Sebagai penyiar baru, kamu memang masih harus banyak belajar ditengah ketatnya persaingan industri ini. Tapi, kami tidak punya waktu lagi untuk memberikan training pada kamu. Industri media berkembang dengan pesat dan mungkin kami hanya akan memakai orang-orang yang sudah jadi. Karena kalau harus menunggu orang berkembang, rasanya akan menjadi sebuah penantian panjang buat media ini bisa maju. Maafkan Raya, Saya harap kamu bisa mengerti keputusan ini..”

            “Apa kinerja kerja saya selama ini tidak meet expectation dengan kantor, Mbak? Karena selama ini hasil evaluasi kerja saya baik-baik saja.. ”

            “Tidak bisa dibilang begitu, kamu sudah berusaha keras.. tapi perubahan yang serba cepat ini membuat kami harus memutuskan yang terbaik untuk perusahaan, tentu buat kamu juga. Lagipula, kamu kan sedang hamil ..oya, berapa usia kandungan kamu sekarang?”

            “Enam bulan, Mbak..”

            “Nah, apalagi sudah enam bulan, justru ini waktu yang bagus buat kamu bisa menikmati masa-masa kehamilan, saya malah dulu pas lagi hamil pengennya santai-santai dirumah lho, biar suami aja yang kerja, haha.. “ Mbak Yeni berusaha mencairkan suasana.

            Raya ikut tertawa.  Ketir. Pernyataan yang diplomatis.

            “Jadi kapan hari terakhir saya siaran, mbak?”

             “Hari ini..”

            “Hari ini?” Raya kaget luar biasa mendengar jawabannya. Bagaimana mungkin pemutusan hubungan kontrak dilakukan dihari yang sama? Serba cepat dan tergesa.

            “Kenapa begitu mendadak, Mbak? Bukankah notifikasi biasanya dilakukan satu bulan atau minimal satu minggu sebelumnya?”

            “Ya..itulah yang saya bilang tadi. Semua bergerak serba cepat. Banyak perubahan yang harus segera disosialisasikan. Tapi, makin cepat makin baik, toh kamu juga nggak ada yang ditunggu lagi kan? “

            Raya mati rasa. Berbagai pertanyaan menyerbu kepalanya. Perusahaan media dengan nama besar kenapa bisa melakukan pemutusan kontrak kerja dengan cara yang tidak professional ya?. Raya merasa seperti seorang terdakwa yang bersalah. Emosinya mulai bermain, airmatanya pun tak tahan meluncur manis di pipi. Ditengah kondisi yang tidak mungkin untuk berdebat, Raya hanya mampu mengucapkan terima kasih atas kesempatan bekerja disana. Bagaimanapun, tempat itu telah banyak memberikan ilmu dan membuat jaringan relasinya semakin luas.

Satu jam terakhir siaran, Raya merasa gamang, masih bergaung kalimat-kalimat Mbak Yeni yang terbungkus dengan manis tapi menghujam. Hari itu, ia merasa apa yang ia cintai didunia ini tiba-tiba diambil. Sebuah pekerjaan yang selama ini memberinya banyak warna dalam kehidupan seketika hilang.

Raya menangis dan membiarkan dirinya larut dalam perasaan kehilangan. Sore itu Raya sulit mendefinisikan perasaannya. 15 Juni 2010, Raya melirik kalender. Ia seperti melihat papan rencana di dinding kehidupannya berantakan dan sulit untuk terbaca. Semua seperti menjadi misteri. Sore itu Raya banyak melontarkan pertanyaan,kenapa?. Tapi, akhirnya sore yang beranjak ke malam itu ditutupnya dengan sebuah kepasrahan.

“Mungkin ini serial baru dari pelajaran hidup yang bernama keikhlasan, Sayang.. “ kata suaminya lembut. Tama ikut terkejut dengan kabar pemutusan hubungan kerja itu, tapi melihat istrinya begitu terpukul ia terus berusaha menghibur.

“Kenapa begitu mendadak , ya Mas.. ? “ Tanya Raya lirih, pandangannya menerawang.

“Kadang kita tidak bisa membaca atau memahami rencana-Nya , tapi aku yakin kamu adalah orang yang meyakini bahwa rencana Allah itu lebih indah dari rencana manusia seperti kita ini..”

“Aku terlanjur cinta dengan pekerjaan itu, Mas.. kenapa mereka nggak bilang dari awal kalau butuh orang yang sudah jadi? harusnya setiap orang diberikan kesempatan untuk berkembang. Biaya untuk mengelola SDM itu kan tanggung jawab perusahaan. Mereka nggak bisa seenaknya aja memperlakukan orang begitu, dong!” Raya berkata sengit.

Tama tersenyum melihat kegelisahan istrinya. Sejujurnya, Ia juga tak habis pikir dengan perilaku perusahaan Raya yang bisa dibilang tidak beretika & profesional dalam melakukan pemutusan kontrak kerja karyawannya. Tapi, ia tidak mau memperkeruh suasana.

“Raya, apa arti pekerjaan buat kamu?”

“Aktivitas yang menghasilkan uang”

“Apalagi?”

“Salah satu ibadah..”

“Kalau itu jawabannya, harusnya kamu nggak usah khawatir. Karena berarti kamu bisa tetap melakukan ibadah dimanapun, bukan hanya terbatas ditempat itu.. “

“Tapi , aku kehilangan penghasilan, Mas..”

“Hmm..kamu yakin? Coba dihitung ulang. Maaf ya, sejujurnya, pekerjaan kamu kemarin itu secara ekonomis tidak terlalu istimewa. Tapi, karena aku melihat kamu begitu enjoy, happy, dansemangat, jadi aku izinkan.. Tapi bayangkan, kalau saja kamu mengandalkan penghasilan kamu kemarin itu untuk hidup, tentu tidak akan cukup. Malah  hasil kerja kamu sebagai kontributor majalah anak lebih menjanjikan, bisa dikerjakan dari manapun lagi.. Jadi, mungkin yang kamu khawatirkan bukan kehilangan penghasilan, karena sebenarnya kamu masih punya pekerjaan lain. Lagipula, kamu juga masih tetap mendapatkan uang nafkah dari aku setiap bulannya kan? apa selama ini yang aku berikan kurang? “

Raya menggeleng cepat.

“Mungkin kamu hanya merasa kehilangan sebuah aktivitas. Sabar ya, Sayang..Insyaallah kesabaran dan keikhlasan kamu akan membawa berkah. Ingat, rencana-Nya pasti jauh lebih indah.. mungkin inilah yang terbaik buat kamu saat ini. Bisa menikmati masa kehamilan dengan aktivitas yang kamu senangi dan bisa punya waktu berdoa lebih banyak, doakan supaya suamimu ini cepat sukses ya, Sayang.. ” . Tama menghibur & memeluk Raya dengan segenap rasa cintanya. Ia paham betul perasaan & kegelisahan yang melanda istrinya. Sebagai perempuan aktif, kehilangan aktivitas adalah sebuah bencana.

            Dalam hati, Raya membenarkan semua ucapan suaminya. Ya, ia hanya akan merasa kehilangan rutinitas, selebihnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Raya merasa bersyukur telah diberikan pasangan yang begitu pengertian & tidak pernah mengekang aktivitasnya. Malam itu Raya akhirnya bisa tidur dengan tenang.

                                    ***

            Minggu berganti bulan dilewati Raya dengan rutinitas baru. Raya sibuk menerima pesanan artikel untuk majalah anak. Ia juga memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar masakan Italia, masakan kesukaan Tama. Hingga suatu hari, Tama datang dengan muka berseri.

            “Hadiah buat istriku yang sabar..” Tama menyerahkan sebuah surat kepada Raya. Dibacanya surat itu dengan teliti, seketika mata Raya terbelalak.

            “Waah, selamat ya, Mas.. Alhamdulillah! “ Raya histeris dan menghambur memeluk Tama Ia mendaratkan kecupan selamat bertubi-tubi pada suaminya. Setelah 6 bulan menanti, pengumuman beasiswa S2 jurusan Arsitek dari kantor suaminya itu keluar juga. Tama lolos seleksi untuk berangkat sekolah ke Perancis di akhir tahun ini. Dana beasiswanya tidak tanggung-tanggung, cukup untuk menghidupi satu keluarga kecil. Salah satu janji Tama untuk mengajak Raya melihat matahari Eropa tercapai! Ia bukan hanya mengajak Raya liburan, tapi menetap di Perancis selama 2 tahun.

                                                            ***

            Desember 2010 . “Alhamdulillah .. Terima kasih atas hidup yang penuh kejutan ini, Ya Allah..kemarin aku bersedih kehilangan sesuatu. Tapi, ternyata yang hilang digantikan dengan sesuatu lebih baik. Rencana-Mu memang jauh lebih indah. Ajari aku membaca segala rencana-Mu dengan hati lapang & penuh syukur, ya Rab.. “ Raya menutup doanya. Ia memandang ke tempat tidur dan tersenyum melihat Tama, belahan jiwanya tengah tertidur pulas memeluk Zenita , buah hati mereka yang belum genap 3 bulan. Raya melipat sajadahnya, ia ingin menunggu waktu subuh tiba. Tapi, penerbangannya masih meninggalkan jetlag yang luar biasa. Jadi, Raya memutuskan untuk tidur sejenak agar ia bisa melihat matahari terbit di pagi pertamanya di Perancis..

                                                            ***


Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

INSTAGRAM
https://www.instagram.com/adenits/