Ketika Corona Menyapa

Alkisah komplek rumah kami masuk Zona orange karena dalam satu pekan ada 6 rumah yang terpapar Covid 19.  Qadarullah, di depan rumah kami persis pekan itu sedang Isoman, lalu 3 rumah samping kiri saya, Bapak dan Ibu RT juga sedang menjalani Isoman.

Tapi, ketika akhirnya keluarga kami terpapar dengan Virus Covid ini bukan karena ‘tertular’ dari depan atau samping rumah kami yang kebetulan memang sedang mengalami hal yang sama.

Jadi, Senin (14/6), Mas Deni, Kakak ipar kami kritis di ICU Covid dan Mbak Kiki, istrinya juga positif dan harus Isoman. Azzi (5 tahun) anak mereka satu-satunya negative dan hanya ditemani oleh Mutiara (12 tahun), anak Bibi yang juga harus Isoman karena hasil PCRnya positif. Mbak Kiki dan si Bibi yang positif sudah diungsikan ke tempat lain. Jadi anak-anak itu cuma berdua di rumah. Bergantian ditengokin keluarga lainnya dengan segala keterbatasannya.

Walau kedua anak ini tetap terpantau tapi kami resah karena terus terang situas di sana sedang chaos sekali. Walau rumahnya sebelahan dengan Bapak dan Ibu, tapi tentu dalam suasana ini semua terbagi perhatiannya untuk menjaga Yangtie Yangkung, merawat anak-anak ini, belum lagi memantau perkembangan yang di ICU dan juga perkembangan yang Isoman. Kedua anak sudah ditawarkan untuk mengungsi ke rumah Kakak-kakak kami yang lain, nggak mau. Pas ditawarkan untuk dibawa ke rumah kami di Bintaro,  mereka mau. Langsung kami jemput. Saya berani jemput dengan pertimbangan 4 hari sebelumnya hasil PCR mereka negatif.

Dua hari di rumah, tiba-tiba anak-anak ini demam, hanya sehari tapi turun lagi dan normal seperti biasa. Karena anak Kakak saya adalah penderita Thalassemia yang memang suka demam tiba-tiba kalau kelelahan, kami tidak ada curiga ke arah lain.

Sampai beberapa hari kemudian Sabtu (19/6) Oza dan saya nggak enak badan diikuti demam. Terus terang saat itu saya nggak ada curiga Covid, karena saya sekeluarga merasa sudah menjalankan pola hidup sehat dan setiap hari di rumah rutin mengkonsumsi ramuan JSR, Habats, Zaitun, buah-buahan, sayur dan pola makan seimbang.

Saya juga nggak pernah ikut kumpul-kumpul di luar dan kalau keluar rumah seperlunya untuk belanja atau olahraga dengan prokes ketat. Kembali ke rumah ganti baju, mandi dll.

Intinya, saat itu saya nggak ada curiga Covid. Saya justru datang ke dokter untuk minta diambil darah untuk tes DBD/Thypus, karena rasa pusingnya mirip sekali saat saya Typus dulu. Saya memutuskan tidak ke RS besar seperti biasanya dan hanya pergi ke klinik klinik kecil dekat rumah, tapi ternyata prosedur RS di manapun saat ini, untuk melakukan cek DBD/Thypus, harus tetap dieliminir Covidnya. Jadi tetap harus tetap melakukan swab Anti Gen.

Jadi, saya dan Oza malam itu begitu masuk lab, dua tindakan sekaligus, ambil darah dan dicolok hidung. Saya lebih dulu diperiksa lalu menunggu di luar. Karena saya sudah lemas, saya sudah nggak sanggup mendampingi Oza yang meraung-raung menolak di Swab di ruang Lab. Agung menemani Oza cukup lama dan tiba-tiba dia keluar ruangan Lab untuk mengambil air minum dan menghampiri saya.

“Bun, pikirkan skenario kalau kamu positif..”

Saya terdiam. Ternyata saat menemani Oza di dalam, Agung melihat alat tes saya dua garis. Dan ternyata hasilnya Oza negatif dan saya positif. Qadarullah Wa ma sya’a fa’ala…

Dalam suasana yang harus berpikir cepat, Alhamdulillah Allah kasih ketenangan saya jadi bisa berpikir cukup jernih. Dulu saya pikir, kalau berita ini sampai pada saya, saya akan drop. Tapi, malam itu begitu terkonfirmasi, perasaan saya cenderung stabil dan masih bisa tenang berdiskusi dengan dokter. Mungkin karena kemarin-kemarin, ketika ada teman yang terkonfirmasi positif Covid, saya suka kirimkan video ini. Jadi, mungkin ketenangan juga datang dari pertolongan Allah lewat apa yang saya dengar di sini.

Saya baru sempat meneteskan airmata sekejap gara-gara melihat suasana rumah sakit yang dipenuhi orang-orang sakit, dan saat saya mengabari orang-orang terdekat melihat respon mereka histeris. Tapi itu hanya berlangsung beberapa menit, karena saya langsung disodorkan realita harus berpikir penanganan orang-orang rumah. Secepat mungkin diskusi dengan suami dan apa saja hal yang harus dilakukan segera.

Pertama, setelah urusan dengan dokter beres, kami langsung pulang ke rumah. Kami bagi tugas, suami saya mengabari tim gugus Covid komplek rumah, saya menghubungi tetangga sekaligus sahabat kami, dokter Risa untuk meminta bantuan Swab anggota keluarga kami, sehingga kami tidak harus keluar rumah.

Malam itu juga satu rumah, 7 orang tersisa melakukan Swab Anti Gen. Alhamdulillah Allah kasih kemudahan, tetangga dekat kami di depan rumah punya stok alat Swab dan dokter Risa malam itu sedang lepas dinas jadi bisa langsung ke rumah. Malam itu di garasi rumah jadi banyak jeritan-jeritan suara anak karena ada pemeriksaan masal Swab Anti Gen. Tujuh orang malam itu antri di Swab. Tiga dewasa, Agung, Mbak Tara (ART), Hair (anak asuh kami) dan 4 anak-anak, Olea, Hanif (anak mbak Tara), Azzi (ponakan) dan Mutiara (Anak Bibi Cijantung yang sedang dititipkan) Hasilnya 4 orang positif dan 3 orang (Oza, Azzi, dan Hanif) negatif.

Kami langsung gerak cepat mengabari grup keluarga yang malam itu semua bersiaga. Malam itu juga, mas Ebed, Kakak kami langsung memisahkan 2 orang yang negatif. Jam 11 malam dua anak ini dijemput dan langsung dibawa PCR di Bumame TB Simatupang yang buka 24 jam. Melihat Oza berkemas dengan kopernya, membayangkan harus berpisah 14 hari tanpa bisa memeluk saat dia pergi, rasanya hati nggak karuan. Tapi, malam itu semua sadar harus bergerak serba cepat, nggak ada waktu lagi buat drama nangis, bahkan Oza sekalipun menyadari hal itu. Malam itu, jam 23.30 saya sudah lelah sekali karena serangan demam dan mengigil yang membuat saya langsung terkulai begitu masuk kamar. Penghuni rumah yang lain juga sibuk menenangkan diri dengan realita yang baru saja diterima. Sementara Agung saat itu yang paling terlihat sehat diantara kami, sibuk koordinasi telp dokter kantor dan beberapa orang yang punya kepentingan dan bisa bantu kami, hingga jam 2 dini hari.

Terus terang literasi Covid sudah ada di tangan kami. Kami selama sebulan penuh ini menghadapi kasus Covid keluarga dari yang ringan hingga yang berat. Analisa-analisa keluarga yang baru saja meninggal dan bahkan baru beberapa hari lalu kami tele conference dengan tim dokter yang menangani keluarga Covid di ICU. Bahasan-bahasan dan tindakan yang berhubungan semua itu semacam sudah kami ketahui. Tapi tetap saja, ketika berita ini datang di rumah kami, kami perlu waktu untuk mencerna, memilah dan memilih mana yang paling pas untuk dilakukan lebih dulu.

Besoknya untuk memastikan, saya, Agung, Olea, Hanif melakukan PCR. Subhanallah, hari itu semua tempat PCR penuh. Semula kami mau melakukan home visit PCR, tapi dapat jadwalnya justru lama sekali, jadi kami memutuskan untuk Drive Thru PCR di Bumame Bintaro. Hasilnya semua terkonfirmasi positif kecuali Hanif. Hanif akhirnya dijemput oleh ayahnya. Siang itu juga hasil PCR Oza keluar dan positif. Jadi, Oza langsung dijemput Agung lagi buat bergabung Isoman di rumah. Total jumlah yang Isoman di rumah jadi bertujuh, Alhamdulillah ala kulli haal…

Beberapa hari di masa Isoman, saya mendapati informasi ini di grup. Saya tersenyum membacanya, hampir semuanya benar. Mungkin kalau saya baca ini pekan lalu, ceritanya akan berbeda. Tapi saya sadar, berandai-andai adalah pekerjaan syaitan. Yang bisa saya lakukan adalah membagi informasi ini pada orang lain, agar bisa lebih berhati-hati.

Teringat obrolan dengan dokter Risa dan beberapa teman ahli, dugaannya dua anak yang kami bawa ke rumah saat itu, salah satunya ada yang carrier meski sdh PCR negatif. Karena saat itu ada jeda waktu beberapa hari anak-anak ini tetap beraktivitas di rumahnya sebelum diambil ke rumah kami. Dan ternyata setelah diselidiki , keduanya pernah ada kontak lagi dengan si Bibi sebelum hasil PCR bibi keluar positif, wallahualam.

Jadi, ketika kami sudah ikhtiar ke luar rumah, justru kasusnya beda lagi. Kami justru ‘kena’ dari dalam rumah kami sendiri. Saat inilah mungkin, kami belajar ikhlas mengucapkan kalimat Qadarullah wa maa syaa’a fa’ala… 🙂

Gambar diambil dari @loveshugah

Ucapan Jika Tertimpa Sesuatu Yang Tidak Disenangi

Qoddarollaahu wa maa syaa-a fa’ala.
Allah telah mentaqdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.

HR. Muslim

Lalu bagaimana kami menjalani Isoman di rumah? Saya buat postingan tersendiri untuk ini ya…

Baca : Ketika Satu Rumah Isoman


Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

INSTAGRAM
https://www.instagram.com/adenits/