Ketika Satu Rumah Isoman

Postingan ini adalah lanjutan dari postingan “Ketika Corona Menyapa”, Begitu diagnosa tegak dengan keluarnya hasil PCR semua anggota keluarga inti, Agung langsung berkoordinasi dengan beberapa pihak yang bisa membantu kami. Diantaranya, Tim Gugus Covid komplek rumah kami, keluarga besar, beberapa kerabat dekat dan dokter kantor.

Hari pertama Isoman, selesai kajian online pagi saya mendapati di meja tamu sudah ada kiriman paket dari MuhajirProjectPeduli, diantar langsung oleh Chiefnya (Barakallah, Om Nurman dan tim).

Masya Allah, membaca kartu ucapannya sungguh bikin mood booster pagi itu, serasa langsung dijenguk dan didoakan oleh Guru kami Hafizhahullah. Sungguh seperti sebuah suntikan optimis dengan dosis tinggi menerima kiriman yang semuanya bermanfaat untuk menambah kekuatan imun dan iman kami. (Semoga Allah merahmati dan memberkahi guru kami dan Tim @MuhajirProjectPeduli).

Setelah berkonsultasi dengan tim dokter kantor dan meminta arahan, kami diminta untuk ke RS terdekat untuk cek kondisi dan melakukan rontgen serta cek Thorax. Semua begitu komunikatif dan responsif membantu sehingga memudahkan kami untuk bergerak dan memutuskan sesuatu. Atas rekomendasi beberapa teman dokter, kami memutuskan untuk ke poli Covid RS Premier Bintaro.

Kami datang jam 12.30, karena saat itu saya yang paling lemah, saya diminta Agung untuk menunggu di mobil, maksudnya supaya saya bisa istirahat dan bisa meminimalisir berkontak dengan orang lain. Oza dan Olea ikut Agung turun menunggu di Poli, sementara saya tidur di mobil dengan kondisi AC mobil di matikan. Cuaca di luar  terik sekali tapi saya menggigil kedinginan.  

Di luar dugaan, untuk mendaftarkan 4 orang pasien 2 dewasa dan 2 anak, kami butuh waktu 2 jam menunggu. Ditambah 2 jam lagi untuk antri periksa. Dan hampir 1 jam untuk antri menebus obat. Padahal itu sudah langsung di poli Covid. Subhanallah, hari itu saya menyaksikan langsung berita sesaknya rumah sakit oleh pasien Covid dan bahkan penuhnya UGD karena peningkatan angka pasien Covid, semua nyata di depan mata.  

Alhamdulillah, anak-anak sudah lebih dulu tertangani oleh Dokter anak. Oza dan Olea secara umum berada dalam level kesehatan di atas kami berdua. Saya dan Agung juga sudah berkonsultasi dengan dokter perihal gejala kami yang mengalami demam, pusing, badan linu dan pegal, batuk, sakit tenggorokan yang semuanya itu masuk kategori ringan. Karena kami tidak ada Comorbid, jadi dokter saat itu menilai kami belum memerlukan tindakan rontgen paru atau cek Thorax.

Gambar diambil dari akun Instagram @muhammadnuzuldzikri

Hari itu, kami pulang membawa masing-masing kantong berisi obat-obatan, Oseltamivir (Anti virus), Azitromycin (Antibiotik), Medixon, Arinox (Untuk pusing), Sumagesic (Paracetamol pereda demam dan pusing) dan Zegavit (Vitamin). Bedanya kantong obat saya dan Agung, hanya ada tambahan obat batuk Sanadryl karena Agung ada gejala batuk.

Isi kantong obat Oza dan Olea juga sama, Azitromyzin drop (Antibiotik),  Zamel Drop, Elkana dan Imunped Syrup (Suplemen makanan).

Untuk dua pasien dewasa (Teteh & Mbak) dan satu pasien anak (di rumah yang menjadi tanggung jawab kami, kami mendapat resep lain yang kami carikan secara mandiri. Pada hari itu, obat-obatan yang dicari ternyata mulai langka dan harganya melambung tinggi. Saya sudah tidak sanggup browsing, dan akhirnya seorang sahabat dekat membantu dan berhasil mencarikan semua resep itu via Apps Halo Doc.

Tapi kami sadar, obat-obatan ini hanya untuk mengobati. Kesembuhan hanya datang dari Allah Asy Syaafii. Obat-obatan ini hanya sebagian ikhtiar yang kami bisa lakukan secara umum.

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku… ”

(QS. Asy-Syu’ara : 80)

(gambar dari internet)

Kekuatan Imun dan Iman

Hampir setahun lalu, saya pernah menulis di sini tentang “Kekuatan Imun dan Iman” dalam menghadapi pandemi ini (baca di sini) dan catatan kecil apa yang sebaiknya dilakukan saat mendengar kabar positif Covid serta catatan dari kerabat dekat kami yang sembuh Covid (Baca : Simpan Pertanyaanmu, Lebih Baik Gercep Membantu).

Dan sepertinya, saat inilah dua kekuatan itu diuji. Di rumah, kami menambah ikhtiar dengan mengkonsumsi Thibbun Nabawi yang kami yakini bisa menambah imunitas tubuh untuk mempercepat kesembuhan. Sebenarnya sehari-hari kami selalu mengupayakan stok Thibbun Nabawi di rumah, jadi sudah terbiasa untuk mengkonsumsi semua ini. Dan beberapa resep Jurus Sehat Rasulullah yang sering kami dapatkan dari Ustadz Zaidul Akbar. Tapi kali ini sepertinya ‘dosisnya’ harus ditambah.

Thibbun Nabawi yang kami konsumsi :
Madu
Kurma Ajwa
Habbatussauda (Kapsul+Cair)
Minyak Zaitun
Air Zam-zam

Penambah Imun lainnya yang kami konsumsi:
Qusthul Hindi
Probiotik (Bio Syafa & 1 botol tanpa label kiriman teman)
Vitamin D 5000 IU
Himalayan Salt untuk berkumur
Minuman rimpang-rimpangan resep JSR.

Resep JSR andalan kami biasanya The Power of Six. Rebusan air Sereh, Kunyit, Jahe, Temulawak, Kencur, Kayu Manis. (Resepnya pernah saya catat di sini). Air Zam-zam yang biasanya hanya kami minum saat kami butuhkan, kali ini kami minum setiap hari.

Atas pertolongan Allah, ada kiriman 1 Galon Air Zam-zam dari sahabat-sahabat kami. Allah mudahkan kami ‘isi ulang’ stok air Zam-zam di rumah yang tadinya hanya tinggal beberapa gelas, Masya Allah!


“Air terbaik di seluruh permukaan bumi adalah air Zamzam, di dalamnya terdapat makanan (yang membangkitkan) selera, obat dari berbagai penyakit” (HR. Ath-Thabrani)

Satu ikhtiar yang tidak biasa adalah Qusthul Hindi. Ini semacam obat khusus yang harus kami konsumsi rutin di hari-hari melawan Covid dengan kondisi terlemah kami. Semula saya minum Qusthul dengan ampasnya, pahitnya memang bikin orang yang nggak biasa dengan jamu-jamuan akan kapok dan mundur. Tapi lalu ada yang memberi resep racikan Qusthul yang lebih ramah rasanya di lidah.

“Gunakanlah dahan Kayu India, karena di dalamnya terdapat 7 macam penyembuh dan dapat menghilangkan penyakit (racun) di antaranya adalah Radang penyakit paru…”

Tambahan lainnya adalah Probiotik dan Vitamin D 5000 IU. Saya juga sering berkumur dengan air garam. 1 sdt garam Himalaya saya campur dengan segelas air hangat dan saya gunakan untuk berkumur sesering mungkin karena ini cukup meredakan tenggorokan.

Resep Meracik Qusthul (Untuk 1 Gelas)

Masak air panas sampai mendidih. Lalu tuang ke gelas yang sudah diberi Qusthul 1 sdt (sampai menggunung).

Aduk sampai larut. Hirup uapnya. Ini Bagus buat tenggorokan dan rongga hidung. Jika sudah agak hangat, saring dan tuang ke dalam gelas.

Tambahkan 1 sdm Habats cair + 1 sdm minyak Zaitun
Tambahkan madu sesuai selera.

Racikan ini kami minum rutin pagi/siang/malam. Atau minimal 1 kali perhari.

Sekali lagi, ini ikhtiar yang bisa kami lakukan sebagai manusia. Semua ini hanya bisa mengobati, tapi yang Maha Menyembuhkan hanya Allah Asy-Syaafii. Untuk asupan imun, mungkin ini yang bisa kami ikhtiarkan.

Dan untuk asupan iman, saya ingat nasehat-nasehat para guru di kala sedang sehat. Sungguh, sebenarnya nasehat inilah yang menjadi sumber kekuatan utama kami di saat Isoman.

“Jadikan Isoman sebagai waktu berkhalwat dengan Allah. Menjaga Wudhu. Shalat di awal waktu dan berjamaah (jika memungkinkan). Memperbanyak shalat sunnah (semampunya dengan posisi berdiri, duduk ataupun tidur). Dan yang utama, memperbanyak membaca Al-Qur’an karena ia adalah obat. Serta memperbanyak dzikir dan istighfar. Karena istighfar adalah penguat dan menjadi kekuatan…”

‘Laa hawla wa laa quwwata illa billah’

Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah.

(Nasehat guru kami Hafidzahullah ta’ala)

Salah satu hal yang paling saya syukuri di tengah kondisi ini adalah kami serumah sakit bersama. Terdengar seperti musibah, tapi sungguh sakit serumah kali ini menjadi kemudahan tersendiri untuk kami beraktivitas di rumah tanpa harus sibuk bermasker atau memisahkan diri.

Aktivitas sehari-hari tidak terasa berbeda dengan aktivitas harian lainnya. Yang membedakan adalah di hari-hari ini kami keluar dari rutinitas pekerjaan. Tidak ada pemandangan Agung yang biasanya di pagi hari sudah pulang sepedahan lalu bersiap di depan meja kerja buat meeting online atau melakukan pekerjaan dari rumah. Saya juga menutup toko online dan meliburkan admin. Laptop saya dalam keadaan tertutup dan tidak berpindah tempat dari meja kerja. Bahkan saya juga tidak bisa sanggup hadir untuk beberapa kursus online yang sedang saya ikuti. Alhamdulillah, ketika sakit sampai puncaknya, Oza pas sekali sudah selesai ujian akhir semester. Keberadaan Tiara, anak Bibi yang usianya seumur menjadi hiburan tersendiri bagi Oza.

Virus ini unik sekali, apa yang dirasakan oleh orang serumah selalu berpindah-pindah. Demam berputar dengan pusing, pusing bertukar dengan batuk, batuk berubah lagi jadi sakit tenggorokan. Agung, Hair dan Mbak sempat hilang penciuman (Anosmia). Dan mayoritas yang dirasa hampir serumah adalah lemas. Jadi, dengan gejala yang disebut paling ringan ini, kami gunakan waktunya untuk banyak istirahat dan tidur.

Masing-masing semua berjuang dengan gejala yang dialaminya. Tapi kami bisa saling menguatkan dan memberi pelukan kapan saja. Siapa yang saat itu sedang berada di stamina paling kuat bisa membantu yang paling lemah. Tetap bisa berbagi tugas-tugas ringan, siapa yang mencatat kondisi harian, mengambil paket, menyiapkan meja makan, dan beberapa pekerjaan domestik ringan lainnya. Meski semua penghuni rumah sakit, tapi Alhamdulillah kehangatannya sama sekali tidak berkurang. Dan harus diakui, stamina anak-anak paling kelihatan cepat pulih. Di akhir pekan pertama, mereka sudah bisa main seperti biasa.

(Gambar diambil dari akun Instagram @muhammadnuzuldzikri)

Jadi kira-kira selama Isoman, ini rutinitas dan jadwal asupan obat dan herbal kami. Biar mudah, saya catat berdasarkan waktu shalat.

Subuh

Bangun tidur minum segelas Air Zam-zam lalu shalat Subuh berjamaah dan dzikir pagi bersama. Dilanjut membersamai Murajaah Oza dan tadarus bersama. Setelah itu masing-masing cek suhu tubuh dan saturasi oksigen, dicatat berkala untuk pantauan kesehatan Isoman kami. Catatan kesehatan sederhana ini yang kami update di grup keluarga dan beberapa kerabat dekat yang terus memantau kondisi kami di rumah. Lanjut kajian online kitab Riyadush Shalihin Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. Setelah itu makan buah bersama dan dilanjutkan sarapan berat.

Di jam setelah sarapan adalah waktunya minum obat dokter dan vitamin. Berjemur di balkon sekitar 20-30 menit. Biasanya kami manfaatkan buat sambil makan jeruk, baca buku atau bercengkrama bersama anak-anak.

Pantauan kondisi penghuni BinHill F-8
29 Juni 2021 @06.10

Agung 36,8C / 97%
Adenita 36,6 C / 92%
Oza 36,6 C / 96%
Olea 36,7 C / 99%
Hair 36,5 C / 98%
Mutiara 36,6 C / 98%
Tara 36,6C /98%

*Contoh catatan rutin kesehatan yang kami pantau setiap pagi dan sore selama Isoman. Tapi, khusus saya yang saturasinya tidak stabil harus dicek lebih sering.

Di pekan pertama Isoman, rutinitas pagi hari ini terasa agak berat. Karena pas Isoman saya sedang haid, jadi saat yang lain shalat Subuh, saya masih rebahan di kamar dan hanya mendengar sayup-sayup yang sedang tadarus bersama. Bahkan masuk di pekan kedua, pagi hari itu masih terasa berat sekali bagi saya. Saya sering pamit duluan dari jamaah shalat Subuh, nggak ikutan tadarus pagi dan kembali rebahan di kamar. Beberapa kali kajian pagi yang saya dengar hilang dari pendengaran, sampai saya harus putar lagi rekamannya dan kembali tertidur, Subhanallah…

Dhuha

Sekitar Jam 10 lanjut minum probiotik 1 SDM, Madu 1 SDM, makan apapun yang berselera. Shalat sunnah Dhuha dikerjakan sesuai kemampuan masing-masing di jam yang paling kuat staminanya. Lalu beraktivitas ringan semampunya, biasanya saya menemani bermain anak-anak atau video call sama keluarga, lalu biasanya tertidur lagi. Maksud hati di Isoman ini saya ingin menghabiskan membaca buku yang tertunda, apa daya, kondisi pusing dengan kombinasi aneka gejala yang bergantian datang ternyata menjadikan niat itu hanya angan-angan. Saya lupa, ini adalah waktu Isolasi Mandiri pasien Covid, bukan jadwal liburan… haha 

Jangankan menghabiskan baca buku, pegang hp saja tidak berselera. Tapi saya tetap baca semampunya, selembar dua lembar lumayan. Baca buku lebih nyaman dari pada lihat layar kaca. Saya juga membatasi screen time, karena mata saya tidak sanggup berlama-lama menatap layar, apalagi membaca grup-grup WA yang menggunung. Tapi dilemanya, karena saya dipanggil-panggil di grup nggak nyahut, akhirnya yang japri makin banyak. Sebisa mungkin kalau kondisinya lagi bagus dan sedang memungkinkan, saya balas satu persatu perhatian teman-teman meski baru 4 hari kemudian.

Tips Saya Mengurangi Pusing Saat Isoman :
– Kurangi Screen time (Sosmed/WA Grup)
– Pilih grup atau orang-orang kuncian untuk update kabar
karena orang-orang yang sayang pada kita juga butuh tahu kabar. Dan, orang yang sedang isolasi juga akan membutuhkan bantuan sewaktu-waktu dari pihak luar.
– Menggunakan handphone hanya saat dibutuhkan.

Satu buku yang ingin terus saya baca ulang dan menjadi pelipur lara adalah buku saku “Bergembiralah Wahai Orang Sakit”. Buku saku ini kalau dalam keadaan normal, paling hanya 30 menit. Dan, ternyata rasanya beda dibaca ketika sakit kali ini. Selain agak kepayahan karena hanya dibaca sambil rebahan, apa yang dibaca di dalamnya mengingatkan bahwa begitu banyak amalan-amalan ringan yang pahalanya besar yang dilakukan ketika sakit. Sungguh menjadi penyemangat, membuat hati ikhlas dan tentram karena terus mengingat nikmat Allah di kala sakit (Semoga Allah berkahi dan rahmati penulisnya).

Dzuhur.

Shalat Dzuhur berjamaah. Melanjutkan tadarus bersama sebentar. Makan siang. Jadwal minum obat. Lalu minum 1 SDM probiotik dan 1 SDM madu Probiotik. Setelahnya, Oza biasanya suka izin main game atau main-main bikin makanan kesukaan dia, atau main sama adiknya dan Tiara.

Ya Allah, sungguh Allah sebaik-baik pemilik skenario. Jadi kehadiran Tiara, anaknya Bibi di Cijantung yang nyangkut isoman di sini ternyata membuat Oza jadi nggak terlalu kesepian. Biasanya habis itu suka pada ketiduran lagi. Di hari-hari normal, saya jarang bisa tidur siang lama. Kali ini, harus pasrah tertidur dan pas bangun Adzan Ashar atau bahkan sudah terlalu sore. Oiya, di jam-jam ini saya suka nonton kajian-kajian pendek, salah satu kajian pendek yang menghibur saya di hari-hari berat kemarin.

Ashar.

Biasanya jamaah Ashar nggak lengkap, karena sebagian masih ada yang tertidur dan sengaja tidak dibangunkan untuk ikut berjamaah. Dzikir Petang bersama. Cek suhu tubuh dan saturasi. Habis Ashar, kami minum racikan Qusthul Hindi dengan resep yang tadi sudah ditulis. Kadang saya tambahkan minum minyak Zaitun 1 SDM supaya tenggorokan nyaman.

Maghrib.

Semua sajadah sudah digelar di mushalla. Shalat Maghrib berjamaah. Jadwal Oza murajaah dan tadarus bersama. Cek saturasi dan suhu tubuh. Makan malam bersama dan jadwal minum obat malam.

Isya.

Hampir semua jam shalat kami shalat di awal waktu, tapi untuk Isya, pengecualian. Karena habis makan malam biasanya harus menemani anak-anak minum obat dulu dengan segala dramanya yang cukup menghabiskan waktu. Cuci piring, membereskan meja makan, buang sampah. Untuk urusan sampah, di awal-awal Isoman kami masih pakai kantong sampah biasa, tapi teringat pernah baca tentang “Sampah pasien Covid” di KawalCovid19, jadi baru beberapa hari kemudian kami membeli kantong sampah kuning khusus sampah medis dengan ditulis “Sampah Isoman”. Masker medis bekas yang dibuang kami sobek/gunting. Khusus sampah plastik kemasan, kaleng dan kardus yang biasa diambil rutin di hari Sabtu, sampah kami semprot disinfektan lebih dulu sebelum diberikan.

Biasanya shalat Isya berjamaah baru mulai jam 19.30 atau menjelang jam 8 malam. Karena khawatir malam tidak terbangun, biasanya kami langsung melakukan shalat witir. Habis Isya kami kumur-kumur dengan air garam. Agung yang staminanya mulai membaik, biasanya memilih tetap masuk kelas Tahsin/Arabic online.

Sementara saya biasanya langsung masuk kamar bersama Olea, melakukan rutinitas menjelang tidur dan memperbanyak dzikir semampunya sampai tertidur. Kalau malam bisa terbangun, Qiyamul Lail semampunya walau hanya 2 rakaat dan tidur kembali.

Rutinitas menjelang tidur. Termasuk membaca 2 surat terakhir surat Al-Baqarah 285-286. (Lebih lengkap baca : Dzikir sebelum tidur). Gambar dari Buku Celoteh Oza (2016).

Duka di tengah waktu Isoman

Hari ke-4 Isoman, ketika kami sudah mengurangi baca-baca berita yang bisa mengurangi rasa khawatir ataupun sedih, ternyata justru ada kenyataan lain yang harus kami hadapi. Selepas Subuh, grup keluarga cukup lega dengan kabar mas Deni, Kakak Ipar kami yang sudah hampir 2 pekan berjuang melawan Covid di ICU, karena hasil PCRnya negatif. Jam 5.30 Mas Deni meminta Mbak Kiki, istrinya, untuk segera ke rumah sakit dan memindahkan ke ruang ICU Non Covid. Kami semua bersuka cita dengan kabar itu.

Tapi tiba-tiba jam Jam 7 pagi Agung sudah terhubung dengan Zoom keluarga yang mengabarkan bahwa kondisi mas Deni malah memburuk. Saturasinya terjun bebas dan sempat menggunakan alat pacu jantung. Lalu hanya berselang 30 menit, kabar duka itu datang. Jeritan histeris di Zoom dari istri dan anak semata wayangnya dan semua anggota keluarga jadi pemandangan pilu kami pagi itu. Kami semua yang pagi itu sedang di meja makan, berhamburan ikut histeris dan berhamburan saling memeluk. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Selamat jalan mas Deni…

Seketika suasana jadi berubah persiapan pemakaman, dengan segala keterbatasan kami yang sedang Isoman, kami hanya bisa bantu kabar-kabari keluarga dan membantu berkoordinasi via telp proses pemakaman. Sore hari, kami semua yang di rumah ikut pemakaman online. Hari itu rasanya segala gejala yang ada, terkalahkan oleh rasa duka.

Suasana Isoman di rumah terasa lesu, setiap habis shalat air mata kami meleleh dan kami larut dalam do’a. Ini adalah yang ketiga kalinya kami kehilangan keluarga dekat dalam satu bulan terakhir, Paman dan 2 orang Kakak. Tapi semakin membuat kami sadar betapa lemahnya diri ini. Juga, semakin saling semangat mengingatkan dan menguatkan satu sama lain. Laa Hawlaa Walaa Quwwata Illa billah…

Pekan Kedua Isoman

Masuk pekan kedua, batuk Agung makin menjadi. Sementara saturasi oksigen saya tiba-tiba tidak stabil bahkan sempat drop ke 92.  Tapi, saya sama sekali tidak merasakan sesak, hanya pusing saja. Meski tidak sesak, tapi semua keluarga yang memantau perkembangan kami jadi ikut resah.

Lalu atas saran dokter, akhirnya saya terpaksa dipakaikan tabung oksigen selama 30 menit secara berkala. Alhamdulillah ada pinjaman tabung dari @Muhajirprojectpeduli dan seorang sahabat kami. Saya juga mencoba posisi Proning, seperti yang disarankan oleh banyak orang. Dengan izin Allah, saturasi berangsur-angsur kembali ke angka 98.

Lalu permasalahan saturasi hilang, berganti dengan permasalahan pusing. Subhanallah, rasa pusingnya datang sejak bangun tidur. Hilang sebentar, lalu muncul lagi hingga sore hari. Sepanjang hari saya cuma bisa rebahan karena rasa pusing itu membuat lemas. Bahkan seringkali akhirnya saya shalat di rakaat pertama dalam keadaan berdiri, rakaat kedua dan selanjutnya terpaksa duduk.

Selama 2 hari saya nggak ikut makan malam bersama di meja makan, dan akhirnya makanan saya dibawakan ke kamar. Skala 1-10, rasa pusingnya itu 8.5 tapi konstan. Obat pusing yang diberikan dari RS seperti tidak bekerja. Dan, akhirnya 2 kali ganti obat baru agak mereda.

Kala itu merasakan sekali sulitnya mau ke rumah sakit. Untuk pendaftaran hari itu ke dokter Internis, baru bisa dapat antrian 5 hari lagi. Untuk konsul telemedicine, baru bisa 3 hari lagi. Untuk masuk UGD, saat itu baru jam 8 pagi tapi sudah antrian ke-16 dan tidak bisa antri daftar lewat telp. Kami memutuskan akhirnya cek lab home visit di sebuah klinik rujukan seorang tetangga. Dari beliau yang juga dokter, saya mendapat akses untuk telemedicine dengan rekannya, seorang dokter internis. Hasil lab dan pengentalan darah saya semua baik. Jadi, entah dari mana rasa pusingnya.

Di saat-saat ini saya cuma bisa mengamalkan dzikir ini sambil mengusap-usap kepala dan sambil menyapu airmata karena rasa pusing hebat yang kadang-kadang bikin mual ini. Kadang Agung dan Oza datang bergantian memijit kepala saya dan menghibur dengan hal-hal yang nggak penting. Yang sebenarnya dalam kondisi normal akan mengundang tawa, tapi kala itu saya hanya mampu menatap pilu.

Gambar diambil dari Instagram @muhammadnuzuldzikri

(Tidak Sanggup) Menghitung Nikmat Allah.

Di tengah suasana duka dan mendapat nikmat sakit ini, sesungguhnya ada banyak nikmat Allah yang luar biasa besar. Nikmat yang tidak sanggup kami hitung karena terlalu banyak. Saya hanya bisa terus mengucapkan Alhamdulillah. Alhamdulillah alaa kulli hal atas diberi nikmat sakit ini dan Alhamdulillahilladzi Bini’matihi Tattimush shalihat atas begitu banyaknya pertolongan yang Allah kirimkan melalui tetangga, sahabat dan kerabat dekat maupun jauh yang sangat memudahkan kehidupan kami sejak hari pertama hingga berakhirnya Isoman. Yang lain hanya 14+3 hari, saya bahkan harus lebih panjang karena ketika yang lain negatif, saya masih dinyatakan positif. Meski menurut literasi sudah tidak menularkan, tapi demi kenyamanan bersama, saya tetap menjalani isoman tambahan hingga hasil PCR negatif keluar.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha , kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan, beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal”

[H.R Ibnu Majah) 

Selama 14 hari itu, kami mendapat kiriman catering makan siang sehat kiriman dari teman-teman kajian Agung. Belum lagi, makan malam selalu dikirimkan oleh keluarga sahabat kami yang terus memantau dan mencurahkan perhatiannya meski ia tengah berada jauh di negeri lain. Tetangga dan teman-teman bergiliran mengirimkan buah-buahan, jus, sembako, suplemen, herbal, air Zam-zam, air mineral, makanan-makanan sehat dan cemilan anak-anak, makanan ringan, makanan beku, kue-kue, roti, semprotan disinfectan, sarung tangan plastik, kantong sampah, suplai air kelapa ijo dan banyak lagi kiriman lainnya yang rasanya ini lebih banyak dari kiriman di bulan Ramadhan.

Belum lagi bantuan suplai informasi, berbagai kemudahan akses hal-hal yang kami butuhkan, konsultasi dari teman-teman dokter, do’a-do’a guru-guru kami dan semua bantuan waktu, tenaga, dan do’a yang tercurah. Bahkan begitu tahu saya Isoman di hari kedua, guru tahsin saya di tengah kesibukannya langsung menawarkan diri di pagi hari untuk menemani tadarus lewat video call dengan durasi cukup lama, mengingatkan dan memberi nasehat untuk terus membaca Qur’an selama sakit. Masya Allah, sungguh jadi obat penguat. Siapa yang menggerakkan hati orang-orang baik ini mengulurkan bantuannya kalau bukan Ar-Rahman? :’)

Allah Ta’ala berfirman,
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur).”

(QS. Adh Dhuha: 11).


Dengan semua yang kami dapatkan, kami bahkan bisa berbagi kepada beberapa teman yang sedang Isoman juga. Tapi setiap kali kami kirimkan, Allah seperti ‘mengisi ulang’ dengan kiriman yang lain. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Saya dan Agung sampai meneteskan airmata melihat semua nikmat Allah ini, terlebih ketika kami mendoakan mereka, terbayang satu persatu wajah sahabat-sahabat kami dan para pengirim bantuan. Mendo’akan dengan tulus keberkahan atas rezeki mereka dan semoga semua kebaikan yang telah mereka berikan ini menjadi pemberat timbangan di yaumul hisab. Dan semoga kami bisa membalas dan meneruskan kebaikan mereka semua, di saat lapang maupun sempit.

Doa Untuk Sahabat-sahabat kami yang telah begitu ringan memberikan bantuan pada kami.

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي وَاسْقِ مَنْ سَقَانِي
Allahumma ath’im man ath’amanii wasqi man saqaa-nii


“Ya Allah, berilah makanan yang memberi aku makan dan berilah minuman yang memberi aku minum.”

اللَّهُمَّ بَارِك لَهُم فِيمَا رَزَقْـــتَهُم وَاغْفِرْ لَهُم وَارحَمْهُم
Allahumma baarik lahum fii maa razaqtahum, waghfir lahum, warhamhum

“Ya Allah, berkahilah rezeki yang Engkau anugerahkan kepada mereka, ampuni mereka dan berikanlah rahmat kepada mereka.”
Aamiin ya Mujibassailiin

Jazakumullah Khayran ❤️❤️❤️

(Do’a ini saya tulis di kaca dapur, agar kami satu rumah ingat selalu untuk mendoakan para muhsinin).

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat. Dengan pertolongan Allah, akhirnya kami bisa melewati masa-masa Isoman melawan virus Covid 19. Saya tuliskan semua ini di hari-hari Isoman tambahan, di saat belum bisa banyak beraktivitas normal sambil mengingat pengalaman berharga bagi keluarga kami di tahun 2021 yang semoga bisa kami ambil hikmahnya. Tentu yang utama, cerita ini saya bingkai untuk mensyukuri nikmat kesehatan yang telah Allah kembalikan untuk kami semua serumah. Juga, semoga cerita kecil ini bisa jadi penyemangat buat teman-teman yang saat ini sedang menghadapi perjuangan masa Isoman. Laa ba’sa thahurun, Insya Allah…

Do’a berlindung dari hilangnya nikmat dan datangnya penyakit.


اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
[Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu].

(HR. Muslim)


Masya Allah, nggak nyangka bisa menghabiskan Qusthul Hindi sampai bubuk terakhir 😀

Baca juga : Ketika Anak-anak (bermain saat) Isoman.


  1. Putri Anggun

    27 July

    Maa syaa Allah…Jazakillah khairan untuk motivasi dan segunung informasi bermanfaatnya
    Semoga mbak ade dan seluruh keluarga mendapatkan pahala jariyah dari sharing waktu demi waktu isoman nya..
    Semoga musibah yang terjadi, menjadikan pahala tak berbatas atas segala kesabaran yang mbak ade sekeluarga lakukan dalam menghadapinya
    Aamiin yaa rabbal’aalamiin

    Love you pul 😊😘😘🤗

    • Adenita

      27 July

      Masya Allah… Wajakillah Khayran Putri. Aamin allahumma aamiin atas do’a-do’a baiknya, semoga kembali buat yang mendo’akan 🙂 Semoga nik’mat sehat yang didapat sekarang bisa menjadi jembatan kuat buat mengikat taat, Uhibbuki Fillah, Put *peluuk

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

INSTAGRAM
https://www.instagram.com/adenits/