Sisa Kenangan Dari Ruang Kaca

Kemarin saat saya membuka Instagram, ramai sekali postingan teman-teman yang berbagi cerita tentang masa-masa kerjanya di dunia penyiaran. Dari yang masih berkecimpung di sana, sampai yang sudah pensiun, semua diposting pada 11 September dalam rangka Hari Radio Nasional.

Tiba-tiba ingatan saya meloncat jauh sekali ke belakang, bagaimana saya bisa terjun ke dunia itu. Nggak banyak yang tahu bahwa pertama kali saya mulai siaran itu di radio anak-anak. Radio KIDS FM di daerah Sersan Bajuri, Bandung. Kala itu tahun 2001, pengalaman perdana siaran pagi menemani anak-anak dengan lagu anak yang saat itu sedang naik daun adalah lagu Petualangan Sherina. Masih pakai kaset dan MP3, masih pakai SMS dan telpon, baru pertama kali menaikkan mixer di ruang siaran yang sederhana dan geli sendiri mendengar suara ada di radio.

Dengan modal pengalaman beberapa bulan di sana, lalu muncul keinginan setengah nekat untuk loncat ke radio anak muda yang saat itu sedang membuka program magang liburan. Kala itu, rasanya menyenangkan melihat dinamika dunia radio. Ditambah belum punya kemampuan mengenali dan mengeksplorasi diri, belum punya pendirian yang kokoh, belum bisa memaknai dan melihat sesuatu baru sanggup penampakan kulit luarnya, pokoknya lebih banyak ikut arus saja.

Ternyata dari program magang liburan itu, saya terseret lebih jauh untuk berlanjut ikut kelas kepenyiaran yang diadakan oleh seorang Program Director Radio (gurunya para penyiar di Bandung kala itu), Kang Decky Danumihardja. Atas kebaikan beliau, saya dan beberapa teman dapat kesempatan magang di salah satu radio ternama anak muda di Bandung yang saat itu sedang buka cabang di Bandar Lampung.

Hampir tiga bulan tinggal di Lampung, lalu membawa saya kembali ke Bandung dan menjalani profesi sebagai penyiar dan reporter training di radio anak muda yang kala itu cukup prestisius. Kehidupan yang banyak membawa pengalaman mengenal nama-nama hebat di dunia kepenyiaran, sepaket dengan mengenal dunia hiburan yang meriah dan gemerlap. Dunia yang melenakan dan melalaikan saya dari tujuan utama ke Bandung untuk belajar. Tentu ini tidak terjadi sama semua orang, mungkin hanya kepada saya yang lemah iman dan kurang pandai mengatur waktu. Tapi dunia ini juga yang membawa saya ke sebuah lompatan besar untuk mendapat tawaran dan kesempatan kerja di dunia yang lebih luas lagi.

Demi mengejar waktu kerja (dan pendapatan) yang lebih stabil, saya pindah ke radio berita sebagai reporter dan news writer. Tapi, segmen radio berita yang setengah isinya adalah berita politik membuat kepala saya lama-lama pusing karena seolah jadi ikut terlibat untuk mengurusi ‘negara’, padahal saya hanya bagian buih untuk memberitakannya saja *nyengir.

Melalui Kang Decky (lagi) yang saat itu sedang membidani lahirnya radio baru, saya ditawari untuk kembali siaran di sebuah radio Otomotif Bandung yang baru buka. Sebenarnya waktu itu sudah mulai enggan terjun ke dunia ini lagi, tapi karena banyak fasilitas kemudahan untuk mengatur jadwal kuliah, ditambah belum tampak lagi pekerjaan yang bisa saya jadikan pegangan kala itu, akhirnya disambut lagi deh tawarannya. Radio itu menjadi tempat terakhir saya siaran di Bandung sebelum saya lulus kuliah dan kembali ke Jakarta untuk melanjutkan hidup.

Jujur, kala itu saya menjadikan pengalaman siaran di radio sebagai cita-cita besar saya untuk masuk ke dunia siaran tv sebagai news presenter. Sebenarnya bisa dibilang agak terlalu pede, nggak tahu bisa dapat ilham dari mana koq ya kepikiran profesi itu, padahal tampang pas-pasan (dibanding teman-teman di bidang ini yang rata-rata cameragenic dan wajahnya memang pas di layar kaca :D), bahasa asing juga tidak terlalu istimewa, tapi keukeuh ingin mencoba mengejar profesi itu. Tapi lalu Allah takdirkan saya diterima sebagai reporter berita di sebuah saluran tv berbayar milik Malaysia. Kesempatan yang kala itu seperti meniupkan impian saya menjadi semakin besar.

Bekerja di industri televisi, apalagi sebagai reporter berita, kadang butuh keikhlasan hati untuk bisa bekerja di luar jam-jam yang tidak biasa. Jadwal libur yang kadang bisa bergeser, saya salut melihat totalitas para awak media dalam bekerja di dunia ini, terutama para perempuan yang berperan ganda sebagai ibu di rumah. Sampai saya akhirnya menyadari bahwa bukan dunia kerja seperti ini yang saya inginkan.

Hasil perenungan yang panjang, saya memutuskan berbelok arah, tidak meneruskan keinginan saya. Padahal yang saat itu saya sedang sering diminta untuk ikut melihat on cam para presenter live di lapangan. Biasanya kalau sudah di tahap ini, akan ada latihan khusus dan itu berarti mungkin saat itu sudah selangkah lagi menuju apa yang saya impikan. Tapi entah kenapa hati saya sudah tidak berambisi. Ketika hati sudah tidak bersama ‘raga’, akibatnya saya mulai merasa berat melakukan ini itu dan jadi kurang kreatif.

Saya memilih mengundurkan diri dan mengejar impian lainnya yang saat itu masih tidak ada bentuknya. Pun, tidak ada jaminan bagi saya akan dunia yang akan saya geluti nantinya. Kalau ditanya orang saya mau apa? saya sendiri bingung kala itu.

Sempat terombang-ambing menjadi pekerja lepasan, mulai dari event organizer, content writer,  hingga akhirnya menerbitkan buku perdana dan lumayan banyak punya aktivitas baru seputar dunia penerbitan dan penulisan.

Terbitnya buku itu justru malah membuat saya tersambung lagi ke dunia kerja sebagai penyiar di sebuah jaringan radio besar di Jakarta, kali ini dengan segmentasi dewasa muda. Nama-nama besar di dunia penyiaran dan industri hiburan di Indonesia ada di sana.

Aduh ya, saya juga bingung kala itu kenapa kecemplung lagi di dunia ini lagi? Mungkin ada kerinduan (yang semu), mungkin juga karena saya berpikir bahwa saya hanya ingin sekedar siaran saja dan lalu pulang melanjutkan aktivitas lainnya. Tapi kenyataannya tentu tidak bisa seperti itu, saya tetap harus terlibat dengan banyak event lainnya. Sebagai anak baru dan bukan siapa-siapa, saya sering diminta untuk datang ke event menggantikan para senior yang sibuknya minta ampun. Dan itu sangat menyita waktu. Untuk jadwal siaran, saya hanya diberikan jam untuk menyapa ringan pendengar dan memutarkan permintaan lagu dan baca iklan di antara jam prime time. Semacam penyiar ‘ganjalan’ di tengah program para senior hahaa 😀 tapi dari sini saya belajar tentang etos kerja dan profesionalisme, juga menyaksikan langsung kehidupan di belakang layarnya ‘para bintang’.

Hampir 1.5 tahun bekerja di sana sampai saya menikah lalu berakhir sebelum saya melahirkan anak pertama. Pengalaman di sana sekaligus menutup perjalanan karir saya di dunia radio. Saya mencukupkan diri bekerja di industri yang begitu ‘meriah’ ini. Ada banyak pertimbangan dan prioritas hidup yang saya lakukan ketika jalan hidup sudah berbelok arah. Setelah menimbang-nimbang, saya memilih yang manfaatnya paling banyak dan mudharatnya paling sedikit untuk kehidupan saya.

Percaya atau nggak, selama itu di dunia siaran, makin hari saya makin menemukan diri saya yang sebenarnya. Semua orang mengira saya ekstrovert, ternyata saya intovert. Orang-orang mengira saya senang tampil, kenyataannya saya sebenarnya lebih senang dan nyaman bekerja di belakang layar. Saya juga ternyata nggak suka-suka amat bicara. Kalau di rumah, saya ngomong dengan gaya sesuka hati atau suka malas menjelaskan sesuatu dengan detail. Padahal di dunia siaran, saya dituntut untuk bisa mendeskripsikan segala sesuatu dengan detail. Ketika bicara sehari-hari, saya selalu dalam ‘posisi suara off’, bukan dengan ‘suara ON’ alias suara perut yang bisa mengeluarkan suara bulat layaknya saya siaran. Alhasil suaranya terdengar suka nggak jelas, bahasa jowonya ‘nggremeng’ hahaha…

Aneh? terdengar iya. Lalu koq selama itu memilih bertahan? Mungkin karena kala itu saya nggak tahu kemampuan lain apa yang bisa saya andalkan dalam bekerja dan belum berani mengeksplorasi lebih jauh.

Kalau di total, durasi waktu kerja di industri radio sekitar 8 tahun. Dengan segala suka dukanya bekerja di dunia siaran radio, saya tidak berminat untuk kembali 🙂 Lagi pula, menurut saya sendiri, kemampuan saya tidak terlalu istimewa dibanding teman-teman lain (di bidang yang sama) yang memang sangat piawai baik on air maupun off air.

Tapi, dengan kemampuan ala kadarnya itu saja rasanya Allah sudah kasih banyak rezeki saya lewat banyak hal di bidang itu. Allah kasih saya rezeki melalui hal-hal yang nggak pernah saya kira sebelumnya. Tiba-tiba diminta pengisi suara, master of ceremony di berbagai gelaran acara lokal dan nasional, kadang suka ada yang butuh moderator, lalu suka diminta bantuan untuk menulis naskah, ditelpon orang untuk konsultasi, hingga mengajar. Ada-ada saja Allah kasih jalan rezeki untuk saya dengan kemampuan yang seadanya itu.

Padahal jujur, ilmu saya masih amat dangkal dibanding teman-teman penyiar lainnya yang kemampuannya jauh lebih baik. Semua pengalaman itu pernah saya cicipi bukan karena saya ahli, tapi bisa jadi karena terkait nama-nama besar tempat saya bekerja dulu sehingga menambah kepercayaan orang lain pada saya.  Jadi bukan karena saya hebat, tapi karena pertolongan Allah dan ditutupnya aib-aib kekurangan saya sehingga yang tampak hanya kebaikan dan membuat orang lain percaya pada kemampuan saya.

Suasana ruang siaran di Ratu Plaza, Jakarta.

Sering banyak yang nanya, nggak mau balik lagi siaran? nggak sayang pengalaman itu jadi sia-sia? Jawaban saya nggak 🙂 .

Insya Allah semua ilmu yang pernah saya dapatkan di industri media tetap bermanfaat. Bekal kemampuan wawancara jadi bisa digunakan untuk berinteraksi dengan lawan bicara, keahlian copy writing yang waktu itu sangat terpaksa dilakukan, sekarang di era sosmed malah bisa digunakan untuk membuat konten. Sikap kritis dan double kroscek atas sebuah berita, seperti sebuah hal yang otomatis berlangsung sampai hari ini dan masih banyak lainnya yang bisa dimanfaatkan. Minimal, dengan kemampuan yang tersisa, saya masih bisa mempergunakan untuk membacakan cerita pada anak-anak saya 🙂

Lalu bagaimana dengan menjadi MC? Terus terang saya sudah hampir 5 tahun ini sudah tidak pernah lagi menerima tawaran MC acara publik. Saya sudah gantung mic haha… Sesekali kalau lagi ada acara keluarga atau kerabat dekat dengan ‘kategori emergency’ karena nggak ada orang lagi, saya masih membantu.

Terus dari sekian tahun pengalaman itu, apa yang paling berkesan? ternyata yang paling berkesan bukan bekerja dengan ‘para bintang’. Tapi justru yang paling berkesan adalah kesempatan yang mungkin kala itu bahkan dinilai sebagai ‘kesempatan sisa’ yang tidak presitius.

Dengan izin Allah kala itu, sekitar tahun 2002/2003 saya diminta untuk menjadi host acara Ustadz Aam Amirudin di acara kajian pagi bernama ‘Percikan Iman’. Ustadz Aam Amirudin adalah seorang guru yang kala itu punya banyak acara kajian di beberapa masjid besar Bandung. Acara kajian Ustadz mengudara setiap hari jam 5 Subuh di Bandung Raya. Biasanya Ustadz hanya seorang diri dan ditemani dengan operator. Tapi, saat itu radio punya program spesial selama buan Ramadhan, sehingga acara kajian pagi seolah menjadi acara talkshow dengan didampingi seorang host. Penunjukan ini secara sepihak, langsung dari Program Director radio. Saya yang sedang training dan memang belum dipercaya punya banyak jadwal siaran, manut saja.

Biasanya saya yang mendengar kajian pagi radio dari kosan, kali itu saya berkesempatan menemani pengisi kajiannya langsung. Meski harus melawan kantuk dan udara dinginnya Bandung, entah kenapa saya selalu bersemangat berangkat. Setiap paginya saya harus tiba 30 menit sebelum jadwal on air. Itu berarti harus shalat Subuh di kantor.

Mungkin job desk saya kala itu terdengar ‘receh’ karena hanya sekedar membuka acara, menyapa lalu membacakan pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke radio untuk disampaikan pada Ustadz dan dijawab langsung oleh beliau, lalu menutup acara. Tapi, selama satu jam itu saya ikut larut menyimak. Di tengah fakir ilmunya saya, banyak sekali hal-hal baru yang saya ketahui, atau yang saya maknai kembali.

Kalau diingat-ingat lagi, pengalaman itu jadi semacam program yang Allah kirimkan buat memaksa saya tetap belajar agama. Rasanya tiap kalimat jawaban untuk pemirsa yang keluar dari lisan beliau, seolah saya sedang menyirami bibit-bibit iman yang kering dalam diri saya. Setiap selesai siaran, saya selalu punya kesempatan bertanya langsung hal-hal seputar agama pada beliau, meski kala itu yang ditanya hal-hal receh seputar permasalahan anak kuliahan, tapi beliau selalu menjawab dengan ilmiah berlandaskan Qur’an dan Hadits. Beliau juga tidak pernah lupa menyemangati saya untuk terus dekat dengan Allah dan Al-Qur’an.

Semoga Allah rahmati Ustadz Aam yang sampai hari ini masih terus menebar ilmu dan kebaikan melalui dakwah di radio yang sama, masya Allah! Sayang sekali saya kehilangan nomer kontak beliau saat hp saya rusak. Semoga dengan izin Allah bisa tersambung lagi, karena saya belum sempat mengucapkan terima kasih telah menjadi wasilah bagi saya untuk menjadikan belajar ilmu agama sebagai kebutuhan.

“Waktunya harus diluangkan dan dikhususkan, De…bukan belajar dari waktu yang tersisa” begitu nasehatnya dulu. Dan sekarang saya makin menyadari, sungguh momen bertemu dengan ahli ilmu adalah momen yang amat mahal.

Saat ini, makin banyak orang yang punya kemampuan public speaking yang hebat, apalagi anak-anak milenal, makin banyak juga radio-radio dakwah bermunculan. Banyak rekan-rekan penyiar yang sudah hijrah juga mendedikasikan waktunya untuk membantu dakwah para guru. Membuat nuansa dakwah di radio lebih terdengar ‘ramah’ dan dekat di telinga anak-anak muda yang sedang memiliki ghirah yang tinggi untuk belajar.

Melihat anak-anak muda yang keren tapi sudah kuat pemahaman agamanya, sungguh membuat iri (ghibtah). Ada rasa menyesal tidak memanfaatkan masa muda saya dengan banyak belajar dan mendalami agama di saat akses saat itu mudah sekali. Tapi bukankah menyesal adalah perbuatan syaitan? Jadi daripada saya menyesal, lebih baik saya bersyukur. Bersyukur karena biar bagaimanapun, apa yang saya miliki hari ini terbangun dari bata-bata pengalaman masa lalu.

Saya ada di titik saat ini setelah lelah menyambungkan titik putus-putus kehidupan yang terus saya ikuti tanpa ilmu. Kebijaksanaan yang muncul hari ini, tidak muncul dengan sendirinya. Tapi karena luasnya lahan kesalahan saya dulu. Pondasi hijrah saat ini yang terasa lebih kuat juga mungkin karena dibangun dari lapisan kesalahan dan kekhilafan masa lalu. Masa yang cukup untuk saya kenang, betapa Allah begitu sayangnya pada saya yang fakir ilmu dan penuh dosa ini, tapi masih saja terus diberikan ampunan bahkan taufiq dan hidayah.

Hidayah yang mahal setelah tabrak sana-sini, salah jalan, kepentok ini itu, ketemu jalan yang gelap, ketemu musim kering kerontang bahkan mungkin jatuh ke jurang kekhilafan yang dalam.

Saat saya bersih-bersih file di laptop, saya menemukan file saat saya mengisi suara spot iklan (saya simpan di Instagram) dan menemukan dua buah id card ini. Jadi, di hari ketika semua orang #throwback dengan masa kerja indahnya di dunia itu, saya hanya ingin mengenang cara-cara Allah mempertemukan saya dengan titik-titik kebaikan dan hidayah yang dulu tersebar di mana-mana tapi sering saya abaikan.

Dengan izin Allah, akhirnya saya berada di titik ini. Titik yang masih jauh dari kata baik, tapi ingin menjadi lebih baik. Titik mencintai dunia di balik layar, jauh dari gemerlap dan bukan pilihan populer. Tapi titik ini adalah titik yang paling pas agar saya bisa fokus mengejar ketertinggalan saya mengumpulkan bekal akhirat. Dunia yang lebih pas buat saya saat prioritas hidup sudah berubah. Kalau dulu, kejarlah dunia jangan lupakan akhiratmu. Kalau sekarang, kejarlah akhiratmu jangan lupakan dunia. Saya hanya mengubah sebuah posisi kata, tapi maknanya jauh sekali.

Ada kenikmatan lain yang lebih saya inginkan, nikmat untuk menuntut ilmu saat masih diberi waktu. Jika itu dinamakan hidayah, maka yang ingin saya lakukan adalah mengenggam kuat nikmat hidayah ini.

Hormat saya pada senior, para guru dan teman-teman di industri ini. Semoga Allah merahmati teman-teman saya yang masih bekerja di industri media dengan memberikan jalan untuk terus belajar ilmu syar’i yang saat ini dengan mudahnya bisa diakses kapanpun dan dinamapun.

Semoga dengan selalu menghadirkan Allah dalam setiap langkahnya , akan melahirkan keberkahan untuk pekerjaannya dan terhitung sebagai pahala di jalan dakwah. Karena sungguh, saat ini dunia dakwah sangat butuh kemampuan dan peran para broadcaster yang punya ilmu syariat mumpuni agar bisa menghasilkan konten-konten yang berimbang dan sarat manfaat untuk bekal akhirat. Barakallah Fiikum…

Gambar diambil dari akun @_nandranana


  1. Irma

    17 September

    MasyaAllah..ceritanya.
    Semoga hidayah selalu menyertai Mba Ade sekeluarga.
    Ditunggu podcastnya..ehh sdh pensiun ya🤭afwan

    • Adenita

      17 September

      Masya Allah Mbak Irma, hahaa podcast yang bahkan belum pernah aku unduh, Mbak 😀 matur suwun sudah mampir 🙂

  2. Zamilah

    17 September

    Masya Allah, suka bgddd sama tulisannya. Barokallah bun. Jadi suara iklan itu suara bunda oza?

    • Adenita

      17 September

      Masya Allah, wa fiik barakallah. Jazakillah khayran sudah mampir ke sini, Bu… 🙂 iya itu spot iklan program sponsor di radio saya kerja. Ketauan jamannya nggak dengan kata kunci ‘sms?’ 😅

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

INSTAGRAM
https://www.instagram.com/adenits/