READING

Kelas Hobi di Masa Pandemi (Bagian 1)

Kelas Hobi di Masa Pandemi (Bagian 1)

Layaknya anak sekolah atau pekerja kantoran yang punya ekstra kurikuler, setahun sekali saya suka memilih kegiatan yang bisa menyegarkan suasana hati dan mendatangkan inspirasi. Ikut kelas hobi atau semacam workshop pendek, buat menambah keahlian. Keahlian buat diri sendiri, syukur-syukur bisa dimanfaatkan buat menambah kebahagiaan keluarga di rumah, apalagi kalau bisa balik modal atau buat nambahin beli tiket Umrah…hahaha amiiiin

Dulu pernah ikut kelas masak, brush writing, Kokedama, Food Photography & styling, dan beberapa kelas kecil lainnya termasuk kelas hand bouquet. Entah kenapa saya masih penasaran dengan kelas bebungaan, ternyata setelah saya telusuri, rasa penasaran saya itu karena saya sebenarnya punya ketertarikan sendiri dengan bunga kering (dried flower) dan bunga yang diawetkan (Preserved flower).

Selama pandemi, ingin sekali ikut kelas online di beberapa sekolah bunga, tapi Qadarullah belum ada yang cocok. Sementara itu, hampir semua Florist di Jakarta yang bisa menyelenggarakan workshop juga tutup dan tidak bersedia mengajar online. Kebayang sih ya, pasti bakalan ribet kalau untuk pemula belajar lewat online.

Buat menghibur, saya follow beberapa sekolah florist di Instagram. Ada London Flower Scholl, Mc Queen Flower School (London, New York, Seoul), bahkan saya sampai berniat pengin ambil sertifikasi online dried flower di International Flower Design Association (IFDA) Monaflos, Seoul Korea. Tapi, entah kenapa beberapa kali kontak nggak berlanjut, pernah nanya terus dijawab pakai bahasa Korea, cari-cari translate masih nggak paham. Karena kurang berminat sama bahasa itu jadi sudahlah dilupakan saja… 😀

Waktu itu, tiap mau daftar kursus suka Bolak-balik berdo’a sama Allah, supaya berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu dunia itu banyak sekali, penginnya kalau belajar sesuatu bisa mendatangkan manfaat bukan buat sendiri, dan yang utama jangan sampai hanya nafsu yang bisa buang waktu…

Lalu, di sebuah malam di bulan Oktober, pas kebangun malam dan nggak bisa tidur lagi, saya scrolling cari workshop dried flower, semua rata-rata masih tutup. Lalu ada beberapa florist yang menerima, tapi koq saya ragu, koq keliatannya keahliannya otodidak saja. Bukan menyepelekan kemampuan yang otodidak, tapi kepalang tanggung, prinsip saya kalau mau belajar, belajar dari yang terbaik sekalian. Jadi, memang cari pengajar yang bersertifikat. Biasanya yang seperti ini punya standar tersendiri…

Lalu, tiba-tiba saya menemukan akun seorang florist yang sedang ambil sertifikasi di London Flower School. Waaah, bahagia banget!Langsung DM, eeeh ternyata tengah malam itu langsung dibalas dong… Namanya Kak Nurul, berlanjut ngobrol dan ternyata mau terima private workshop dengan syarat Swab Antigen dulu. Aduh, senang banget pencarian saya berakhir. Dan, mulailah saat itu terbuka jalan buat saya mengenal langsung rangkaian bunga kering.

Workshop dibagi 3 Sesi Pertemuan. Hand bouquette, Bloombox dan Floral Table. Pertemuan pertama, perkenalan bebungaan kering, bedanya bunga kering sama preserved flower, cara mengawetkan, dasar-dasar bikin buket. Harusnya workshop berdurasi 3 jam, jadi molor sampai hampir 5 jam, saking serunya semua yang selama ini hanya saya lihat online, bisa ditanyakan langsung. Gurunya masih muda, tapi sangat produktif. Jadi, ternyata bebungaan ini sebenarnya hobinya dia di tengah profesi utamanya sebagai dokter, Masya Allah! Anak muda jaman now produktif banget dan multitalenta deh…  

Ini hasil karya perdana hand bouquette saya. Masih jauh dari sempurna tapi senang jadi tahu trik-triknya apa saja bunga yang bisa dicampur dan bagaimana pemilihan palette tone. Harus banyak latihan sih… Tapi, baru bisa bikin satu ini aja langsung mimpi bisa suplai hand bouquette buat pengantin di acara wedding syar’i ahahaha… bebas yaaaa mimpi maaahh

Pertemuan berikutnya agak lama karena susah cari waktunya. Sampai akhirnya Allah mudahkan buat sesi kedua bikin Bloom Box. Wah, ini ternyata lebih mudah dari pertemuan pertama. Di sini, bertambah lagi kenal sama varian beberapa bunga kering. Masya Allah ya, Allah ciptakan banyak sekali tumbuhan yang bahkan saat dia kering bisa tetap cantik dan bermanfaat untuk dinikmati keindahannya.

Pas banget, waktu itu ada yang minta bantuan buat menghias seserahan pernikahan. Aduh, awalnya ragu, saya nggak punya keahlian canggih buat mengemas apalagi menghias-hias kotak seserahan. Tapi terus, setelah lihat hasil bloom box, saya jadi ada inspirasi untuk menghias si paket seserahan itu. Alhamdulillah…

Dalam rangkaian bunga, nggak ada bagus dan jelek karena semuanya balik lagi ke selera setiap orang. Kenapa bunga kering? Karena terus terang saya nggak telaten dalam membuat rangkaian bunga segar yang membutuhkan tempat air dan harus hati-hati sekali bikinnya. Lalu, bunga kering juga memperlambat fase bunga jadi sampah. Lebih awet untuk disimpan lebih lama.

Dan, inilah dia hasil Bloombox perdana saya yang isinya Preserved Rose, Preserved Hydrangea, Padi-padian, Baby Breath dan teman-temannya.

Jadi gimana, dua sesi ini sudah layak terima pesanan belum? 😀 Bersambung ke hasil workshop sesi ketiga ya, Insya Allah…


Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.

INSTAGRAM
https://www.instagram.com/adenits/